dulu pandangannya arah Barat
sekarang arah Timur
dulu ucapannya Barat
sekarang Timur
mungkin Barat berubah
atau Matahari
mungkin Barat buntu
masih ada jalan di Timur
Barat kini dengan Tenggara
mungkin anugrah atau bencana
tak tahu, tak ada yang tahu
bahkan tak mau tahu
menunggu Arah angin yang lain
i'm a dreamer and i'm in process to be success :D Proud to be muslim ♥ ALLAH SWT ♥ my wonderfull parents ♥ my greatest brothers
i'm in process to be success
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 16 Maret 2013
Senin, 11 Maret 2013
Kajian Sosiologi Puisi Bayi Lahir Bulan mei 1998 karya Taufik Ismail
v TEORI
SOSIOLOGI SASTRA
Menurut
Wikipedia Indonesia, Sosiologi berasal dari kata sos (Yunani) yang berarti
bersama, bersatu, kawan, teman, sedangkan logi (logos) berarti sabda,
perkataan, perumpamaan. Sastra berasal dari akar kata sas (Sansekerta) yang
berarti mengarahkan, mengajarkan, memberi petunjuk dan instruksi. Tra berarti
alat, sarana.
Sosiologi
adalah telaah tentang lembaga dan proses sosial manusia yang objektif dan
ilmiah dalam masyarakat. Seperti halnya sosiologi, sastra juga berurusan dengan
manusia dalam masyarakat sebagai usaha manusia untuk menyesuaikan diri dan
usahanya untuk mengubah masyarakat. Maka dapat disimpulkan bahwa sosiologi dan
sastra mempunyai objek yang sama yaitu manusia dan masyarakat.
Menurut
Wellek dan Warren dalam buku Djoko Damono tahun 2002, klasifikasi sosiologi
sastra adalah :
1. Sosiologi
pengarang yang mempermasalahkan status sosial, ideologi sosial, dan lain-lain
yang menyangkut pengarang sebagai penghasil sastra.
2. Sosiologi
karya sastra yang mempermasalahkan karya itu sendiri. Yang menjadi pokok
penelaahan adalah apa yang tersirat dalam karya sastra dan apa yang menjadi
tujuannya.
3. Sosiologi
sastra yang mempermasalahkan pembaca dan pengaruh sosial karya sastra. Sastra
ditulis untuk dibaca dan karya sastra tersebut memberikan implikasi terhadap sosial
kemasyarakatan.
v PUISI
Bayi
Lahir Bulan Mei 1998
Taufiq
Ismail
Dengarkan
itu ada bayi mengea di rumah tetangga
Suaranya keras, menangis berhiba-hiba
Begitu lahir ditating tangan bidannya
Belum kering darah dan air ketubannya
Langsung dia memikul hutang di bahunya
Rupiah sepuluh juta
Kalau dia jadi petani di desa
Dia akan mensubsidi harga beras orang kota
Kalau dia jadi orang kota
Dia akan mensubsidi bisnis pengusaha kaya
Kalau dia bayar pajak
Pajak itu mungkin jadi peluru runcing
Ke pangkal aortanya dibidikkan mendesing
Cobalah nasihati bayi ini dengan penataran juga
Mulutmu belum selesai bicara
Kau pasti dikencinginya.
Suaranya keras, menangis berhiba-hiba
Begitu lahir ditating tangan bidannya
Belum kering darah dan air ketubannya
Langsung dia memikul hutang di bahunya
Rupiah sepuluh juta
Kalau dia jadi petani di desa
Dia akan mensubsidi harga beras orang kota
Kalau dia jadi orang kota
Dia akan mensubsidi bisnis pengusaha kaya
Kalau dia bayar pajak
Pajak itu mungkin jadi peluru runcing
Ke pangkal aortanya dibidikkan mendesing
Cobalah nasihati bayi ini dengan penataran juga
Mulutmu belum selesai bicara
Kau pasti dikencinginya.
(Sumber :
Malu (aku) jadi orang Indonesia)
v PENERAPAN
KAJIAN SOSIOLOGI
1. Sosiologi
Berdasarkan Pengarang (Taufiq Ismail)
Sosiologi
berdasarkan pengarang sangat mempengaruhi suatu karya sastra yang dihasilkan.
Setiap pengarang akan menghasilkan karya yang berbeda-beda tergantung dari
status sosial pengarang, ideologi, usia, zaman, lingkungan tempat tinggal, dan
juga lingkungan pergaulan.
Menurut
Wellek dan Warren (1990:1 12), biografi pengarang adalah sumber utama, tetapi
studi ini juga meluas ke lingkungan tempat tinggal dan berasal. Dalam hal ini,
informasi tentang latar belakang keluarga, atau posisi ekonomi pengarang akan
memiliki peran dalam pengungkapan masalah sosiologi pengarang.
Taufiq Ismail tumbuh dalam keluarga guru dan
wartawan, ia sudah bercita-cita menjadi sastrawan sejak masih SMA dan semasa
kuliah ia aktif sebagai aktivis. Puisi-puisi Taufiq Ismail berisi tentang
semangat juang para pemuda untuk memperjuangkan perubahan-perubahan ke arah
yang lebih baik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam puisi-puisinya,
Taufik Ismail selalu mencuatkan kritik-kritik sosial, politik, hukum, dan
ekonomi.
Taufiq
Ismail dikenal sebagai pelopor angkatan ’66 yang menyuarakan kritik sosial
melalui puisi. Pada tahun 1998, adanya aksi demonstrasi mahasiswa, Taufiq
Ismail kembali hadir dengan puisi-puisi yang bernada kritikan keras terhadap
kehidupan sosial.
2. Sosiologi
Karya Sastra yang Mempermasalahkan Karya
Itu Sendiri
Menurut
Wellek dan Warren (1990:122) yang menjadi pokok penelaahannya atau apa yang
tersirat dalam karya sastra dan apa yang menjadi tujuannya, pendekatan yang
umum dilakukan sosiologi ini adalah mempelajari sastra sebagai dokumen sosial
sebagai potret kenyataan sosial.
Sosiologi
Puisi Bayi Lahir Bulan Mei 1998 ini tertulis tahun “1998” berkaitan dengan
tragedi Trisakti 12 Mei 1998.
Penggunaan
kata “Belum kering
darah dan air ketubannya / Langsung dia memikul hutang di bahunya / Rupiah
sepuluh juta.” Kata-kata tersebut menceritakan tentang kondisi
krisis finansial asia pada Mei 1998 yang menyebabkan pemberontakan
besar-besaran di beberapa kota di Indonesia khususnya di jakarta, pemberontakan
yang dilakukan oleh mahasiswa-mahasiswa Trisakti.
3. Sosiologi
Sastra yang Mempermasalahkan Pembaca dan Pengaruh Sosial Karya Sastra
Saat
pembaca melihat judul yang terdapat Mei 1998 sudah pasti langsung mengetahui
maksud isi dari puisi ini. Karena tragedi Mei 1998 ini sangat bersejarah bagi
Indonesia dan hampir setiap generasi mengetahui karena selalu di bahas di
pelajaran sejarah Indonesia.
Pengaruh
sosial dari Puisi Bayi Lahir Bulan Mei 1998 ini bagi penyair, merasa prihatin
kepada generasi muda yang akan memikul beban negaranya. Terlebih pada bayi yang
baru lahir pada bulan dan tahun itu, bayi itu lahir dan harus menanggung beban
ekonomi. Krisis finansial yang terjadi pada tahun itu menyulitkan para orang
tua mengurusi anak-anak yang kebutuhannya lebih.
Jumat, 07 September 2012
Goresan-goresan Kebanggaan
Kau lembut selembut
yoghurt di mulutku
Kau menutupi apa yang
seharusnya ditutupi
Tangan ku menari-nari
ditubuh mu yang halus itu
Menari-nari hingga
meninggalkan beberapa goresan
Goresan yang melukai kepolosan tubuhmu
Tapi
goresan-goresan itu membuatmu semakin berharga
Berharga bagi bangsa ku, sebagai ciri khas bangsaku.
Tugas Apresiasi Puisi
PADA
SUATU HARI NANTI KARYA SAPARDI DJOKO DAMONO
APRESIASI
PUISI
diajukan
untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Apresiasi Puisi Indonesia
Dosen Pengampu : Drs. H. Ma’mur Saadie,
M. Pd.
.

disusun
Oleh :
Anggita
Dewi Pratiwi
1100921
Dik
B
JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
2012
PROFIL
SASTRAWAN
Prof.
Dr. Sapardi Djoko Damono lahir di Surakarta, 20 Maret 1940 adalah seorang
pujangga Indonesia terkemuka. Ia dikenal dari berbagai puisi-puisi yang
menggunakan kata-kata sederhana, sehingga beberapa diantaranya sangat populer.
Masa mudanya dihabiskan di Surakarta, lulus SMP Negeri 2 Surakarta tahun 1955
dan Sma Negeri 2 Surakarta tahun 1958. Pada masa ini ia sudah menulis sejumlah
karya yang dikirimkan ke majalah-majalah. Kesukaannya menulis ini berkembang
saat ia menempuh kuliah di bidang Bahasa Inggris di Universitas Gajah Mada.
Sejak tahun 1974 ia mengajar di Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Ia
pernah menjadi dekan dan menjadi guru besar di UI.
Sapardi
Djoko Damono banyak menerima penghargaan. Pada tahun 1986 Sapardi Djoko Damono mendapatkan
anugerah SEA Write Award. Ia juga penerima Penghargaan Achmad Bakrie pada tahun
2003. Ia adalah seorang pendiri Yayasan Lontar. Ia menikah dengan Wardiningsih
dan dikarunia seorang putra dan seorang putri.
Beberapa
puisinya sangat populer dan banyak orang yang mengenalinya, seperti Aku Ingin, Hujan Bulan Juni, Pada Suatu Hari Nanti, Akulah si Telaga, dan Berjalan
ke Barat di Waktu Pagi Hari. Kepopuleran puisi-puisi ini sebagian
disebabkan musikalisasi terhadapnya. Yang terkenal terutama adalah oleh Reda
Gaudiamo dan Tatyana.
APRESIASI
PUISI
PADA
SUATU HARI NANTI KARYA SAPARDI DJOKO DAMONO
Dalam mengapresiasi puisi
menggunakan teori struktural. Struktur adalah keseluruhan yang bulat , yaitu
bagian-bagian yang membentuknya tidak dapat berdiri sendiri di luar struktur
itu.
Pada suatu hari nanti
Pada suatu
hari nanti
Jasadku tak
akan ada lagi
Tapi dalam
bait-bait sajak ini
Kau takkan
kurelakan sendiri
Pada suatu
hari nanti
Suaraku tak
terdengar lagi
Tapi di
antara larik-larik sajak ini
Kau akan
tetap kusiasati
Pada suatu
hari nanti
Impianku pun
tak dikenal lagi
Namun di sela-sela huruf sajak ini
Kau takkan
letih-letihnya kucari
Karya
Sapardi Djoko Damono
Sumber: Kumpulan puisi Hujan Bulan
Juni, 1994
v STRUKTUR
BATHIN
1. Tema
Tema
adalah ide atau gagasan yang menduduki tempat utama di dalam cerita. Puisi Pada
Suatu Hari Nanti karya Sapardi Djoko Damono mempunyai tema kesetiaan. Kesetian
terhadap Kau yang bisa berarti pembaca, walaupun Aku dalam puisi ini tidak ada,
tetapi dia akan tetap setia ada bagi pembaca.
2. Perasaan
Perasaan
adalah suasana perasaan sang penyair yang diekspresikan dan harus dihayati oleh
pembaca. Pada puisi ini, penyair merasa sedih karena pada suatu hari nanti ia
akan meninggalkan sosok Kau pada puisi ini yang bisa berarti pembaca, tetapi ia
pun senang karena walaupun suatu hari nanti ia tiada, tapi ia tetap menemani
dan keberadaannya itu digantikan oleh larik-larik sajak dan kenangan indah
semasa hidup.
3. Nada
dan Suasana
a. Nada
adalah sikap penyair terhadap pembaca. Sikap penyair pada puisi ini adalah lembut
dan halus karena ia menjelaskan bahwa walau suatu hari nanti ia tidak ada, tapi
karya-karyanya akan selalu ada menemani para pembaca.
b. Suasana
adalah keadaan jiwa pembaca setelah membaca puisi. Setelah membaca puisi ini,
pembaca akan merasakan sedih dan terharu karena kebaikan sang penyair yang jika
nanti sudah tiada tapi tetap akan menemani. Dan juga senang karena walau ia
tidak ada, pembaca ridak akan kesepian.
4. Amanat
Amanat
adalah pesan yang akan disampaikan oleh pengarang. Amanat dari puisi ini adalah
bahwa penyair ingin menyampaikan kesetiaannya kepada pembaca walaupun ia sudah
tidak adi, pembaca tak usah sedih. Karena dia tetap setia dan tetap bisa
menemani pembaca dengan karya-karya nya.
v STRUKTUR
LAHIR
1. Diksi
(Pemilihan Kata)
Diksi
adalah pemilihan kata yang tepat, padat dan kaya akan nuansa makna dan suasana
sehingga mampu mengembangkan dan mempengaruhi daya imajinasi pembaca (Fajahono.
1990 :59).
Kata-kata
yang digunakan pada puisi ini mudah untuk dipahami, contoh pada kata “Pada suatu hari nanti” pembaca bisa
mengerti maksud dari puisi ini bahwa menceritakan sesuatu yang akan datang.
Lalu pada kata “Jasadku tak akan ada
lagi”sudah jelas bahwa suatu saat nanti tokoh ku tidak akan ada lagi di
dunia ini. dan kata-kata pada bait selanjutnya mudah dipahami karena lebih ke
makna yang sebenarnya.
2. Pengimajian
Pengimajian
atau pencitraan adalah suatu kata atau kelompok kata yang digunakan untuk
mennggunakan kembali kesan-kesan panca indera dalam jiwa pembaca.
a. Imajeri
Pandang : Jasadku tak akan ada lagi
Tapi dalam bait-bait sajak ini
Tapi di antara larik-larik sajak ini
Impianku pun tak dikenal lagi
Namun di sela-sela huruf sajak ini
Kau takkan letih-letihnya ku cari
b. Imajeri
Dengar : Suaraku tak terdengar lagi
c. Imajeri
Rasa : Kau takkan kurelakan sendiri
Kau akan tetap kusisati
3. Kata
Kongkret
Kata
kongkret adalah kata-kata yang jika dilihat secara denotatif sama, tetapi
secara konotatif tidak sama, bergantung pada situasi dan kondisi pemakainya.
Atau dengan kata lain, kata-kata itu dapat menyaran kepada arti yang
menyeluruh. Seperti pengimajian, kata yang dikongkretkan juga erat hubungannya
dengan penggunaan kiasan dan lambang.
Pada
puisi ini kata kongkret terdapat pada kata
Namun di sela-sela huruf sajak ini
Kau takkan letih-letihnya kucari
Penyair mengiaskan
bahwa kehidupan itu disamakan dengan sela-sela huruf pada kata-kata dalam
sajak, yang penyair tak lelah atau letih mencari tujuannya.
4. Bahasa
Figuratif (Majas)
Bahasa
figuratif atau majas adalah bahasa kiasan yang mengiaskan atau mempersamakan
sesuatu hal dengan hal lain supaya gambaran menjadi jelas, lebih menarik, dan
hidup. Bahasa figuratif atau majas terdiri dari perbandingan, metafora,
perumpamaan epos, dan personifikasi.
Pada puisi
ini hanya terdapat majas metafora. Metafora adalah bahasa kiasan seperti
perbandingan, hanya tidak menggunakan kata-kata perbandingan. Metafora itu
melihat sesuatu dengan perantaraan benda yang lain (Becker, 1978:317).
Yaitu pada
bait I, II, dan III :
I Tapi dalam
bait-bait sajak ini
Kau takkan kurelakan sendiri
II Tapi di
antara larik-larik sajak ini
Kau akan tetap kusiasati
III Namun di
sela-sela huruf sajak ini
Kau takkan letih-letihnya kucari
Pada
kata-kata tersebut menggunakan majas metafora karena mengumpamakan sesuatu
dengan larik, bait dalam sajak.
5.
Rima dan Ritme
a.
Rima
Rima adalah
unsur bunyi untuk menimbulkan kemerduan puisi, unsur yang dapat memberikan efek
terhadap makna nada dan suasana puisi, dan juga rima adalah pengulangan bunyi
dalam puisi. Pada puisi ini semua baitnya mempunyai akhiran i yang memberikan
kesan kesetiaan, pengandaian dan rayuan terhadap sesuatu yang akan dihadapi.
b.
Ritme
Ritme adalah pengulangan bunyi,
kata, frase dan kalimat pada puisi. Pada puisi ini ritma terdapat pada bait I,
II, dan III yaitu pengulangan klausa “Pada
suatu hari nanti”
.
Langganan:
Postingan (Atom)